Showing posts with label inspairing. Show all posts
Showing posts with label inspairing. Show all posts

02 February, 2010

Yang Terlewatkan

sore ini seperti biasanya saya tidak langsung pulang ke kos. rasanya aneh sekali jika harus pulang ke kos saat hari masih terang. ^^ dasar tukang ngelayap. pulang kerja disambit dengan hujan. sebelumnya saya berencana mau pergi nonton Edge of Darkness. tapi kemudian berubah pikiran. "hadeehh..laka picis enimor". ya sudah saya hanya pergi ke Gerai Indosat, sim card im3 saya rusak. eh...jebulno kok ya bayar buat penggantian sim card, 10 ribu. lah lebih murah kalo beli perdana. tapi berhubung saya cinta dengan nomor im3 saya yang nomornya cantik jelita seperti yang punya, jadi saya bela-belain bayar 10 ribu.

sejak masih duduk manis di atas bis, saya lihat keluar jendela...dan wooowww...langit setelah hujannya keren banget. saya pikir ini bakal jadi sunset yang keren dan cantik. jadi setelah dari Gerai Indosat saya langsung menuju rooftop parkir mall. tempat biasa saya nangkring untuk menikmati sunset. tapiii...kok tempat nongkrongnya basah bekas hujan. lagipula masih jam 5.15 matahari masih tinggi. ya sudah saya putuskan untuk turun dulu, window shopping. setelah windows shopping malah kelaperan. gak jadi deh balik lagi nangkring ke atap. pulang. saya memutuskan untuk jalan kaki untuk pulang menuju kos. hanya 10-15 menit jalan kaki. waktu masih menunjukkan jam 6 sore. dan masih terang. ketika melihat ke barat. SUBHANALLAH...ALLAHHU AKBAR... cantiiiikkkk sekaliiiiiiii langitnya. two thumbs up!!! bingung antara mau kembali ke kos ato kembali ke atap buat menikmati sunset. saya putuskan untuk pulang. tapi kepala dan mata gak bisa lurus menghadap depan. nengookkk muluuuu ke arah barat. ^^ untuk kagak nabrak.

sambil jalan yang sering kali saya nengok ke arah barat dan memperhatikan orang-orang yang ada. saya oerhatikan sepertinya mereka melewatkan hal sangaaaaattttt kereeennnn dan cantiikkk.... langit sore yang keren banget. mungkin yang ada di pikiran mereka hanya bagaimana secepatnya sampai rumah. pulang. saya pikir...hei kenapa melewatkan what a such beautiful sky this afternoon? sayang sekali...

jangan-jangan saya juga sering melewatkan hal-hal indah dan yang sepatutnya dinikmati disyukuri keberadaannya. mungkin karena terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran yang melelahkan, kesibukan-kesibukan yang benar-benar sibuk atau disibuk-sibukkan. sehingga abai dan luput untuk menikmati dan mensyukuri nikmat-Nya. hal-hal seperti inilah yang membuat kita selalu saja mengeluh dengan keadaan. so...just OPEN YOUR EYES and OPEN YOUR HEART!!

^inspired from the sunset this afternoon

08 January, 2010

Salam Ngemis

Reposting dari imel berantai di ofis. Entah dapet dari mana. Enjoy the article. ^_^

Simbah gak tahu, ini khas Jakarta saja atau di daerah lain berlaku sama. Yang jelas di tempat asal Simbah, model salam yang beginian tidaklah lazim didapati. Diawali dengan teriakan "Assalamu'alaikum" ... trus diakhiri dengan teriakan agak pelan "sedekahnya buu...".

Yang mbikin Simbah gerah adalah salamnya itu. Dari teriakan salamnya itu, konsekwensi image yang terbentuk nggak enak dibayangin.

1. Memberi kesan bahwa tukang ngemis itu mesti muslim. Meskipun sekaligus bisa juga positip tingking, bahwa yang suka bersedekah itu muslim. Tapi yang awal lebih mengena, karena pemberi salam adalah yang memulai.

2. Merendahkan nilai salam. Karena salam ini biasa digunakan sebagai preambule ngemis, maka setiap kali ada ucapan salam konotasinya ngemis. Pernah ada seorang guru ngaji bertamu dan ngucap salam, dijawab dari dalam oleh si empunya rumah... "maap aja pak..".

3. Si Pemberi salam asal lempar salam. Dia nggak tahu si empunya rumah ini orang kapir kures jahiliyah atau Budha atau Zarathustra ataukah bener-bener muslim. Padahal salam seperti ini khas untuk muslim saja.

4. Jawaban salam harusnya "Wa'alaikumsalam", tapi gara-gara penyelewengan ini jawabannya seringkali adalah "maap aja pak.." atau "maap aja buu...". Ini pelecehan... baik yang memulai maupun yang menjawab salam..

Simbah lebih suka melihat orang yang dengan gigih jualan makanan atau barang yang sebenarnya sepele dan harganya gak seberapa tapi dilakoni dengan sungguh-sungguh. Lihatlah orang yang jualan garam.. nilai total jualannya -meskipun naik sepeda dipenuhi garem sak hohah- tidak lebih dari 150 rebu ripis. Nilai yang sama yang harus dikeluarkan untuk njengking selama 2 jam di hotel berbintang 5. Tapi inilah justru Sang Pemberani. Berani melakoni hidup tanpa harus ngemis, nyebar salam palsu dari pintu ke pintu.

Bini simbah pernah beli krupuk yang rasanya ngudubilah setan alas..asiin ... seharga dua rebu ripis. Itu krupuk dibeli bukan karena rasanya... tapi lebih karena menghargai keberanian si penjualnya untuk menjauhi ngemis. Mengeluarkan seribu duaribu buat mereka lebih membanggakan hati daripada diberikan kepada pemuda berotot kekar yang bisanya paitan/modal abab, mbaca puisi .. ngeman methekole. Gur nggo medhen-medheni sing dijaluki duwit. Diberi mangatus mlotot, apalagi cepek... iso-iso mencothot.

Pariasi ngemis inipun tidak hanya merambah area 'salam' saja. Cobalah naik kereta api kelas ekonomi atau bisnis.
Seribu satu macem cara dipakai untuk merangkai jurus-jurus maut partai Kai Pang ini. Ada bapak-bapak jenggoten sangar nggendong bayi, ada embah-embah buta dituntun ibu-ibu kumal, ada yang ngesot kayak suster (loh..??) ada juga yang pakai jurus klasik dengan hanya berbekal 3 kata... "Bang, minta bang...!"

Selain pariasi, ada juga topeng atau kedoknya. Ada yang berkedok jadi tukang sapu, tukang sulak, ataupun tukang mbeliin tiket. Intinya ngemis. Bahkan ngamen pun dipake kedok juga. Ha wong ada yang bisu tapi nekat ngamen... simbah sampe melu ngenes...

Inilah yang mbikin Simbah kadang gak habis pikir sama orang-orang kaya negeri ini.
Ulang tahun bayi precil umur 3 tahun saja sampe habis anggaran 10 juta. Ngentertain pejabat magrok di resto cuma mak nyuk gitu aja habis 5 jutaan. Gek iki sing dipangan opo sate cocakrowo utowo semur tengkek urang po yo..?? Studi banding...hoeekhh.. ke monco negoro sak anak bojo, putu, ponakan, tonggo.. dikukut kabeh.. makan harta negara milyaran. Tambah koplo lagi kalo materi studi bandingnya tentang kemiskinan. Nyinau tentang kere kok ndadak tekan njaban rangkah lho..

Belum kaum hedonisnya. Pernah lihat harga-harga baju di Plaza paling terkenal di Indonesia? Harga sempak nya thok saja bisa nguripi keluarga pengemis sampai seminggu lebih. Harga dasinya bisa buat mborong sego kucing untuk 5 kesebelasan. Belum harga bajunya. Padahal bajunya itu kalo dipake tetep saja masih ngumbar aurot... ha kok malah muahalnya pol... duh Gusti paringono dahar..

Mangkanya kok pulo Jawa dan Sumantrah dihorog-horog terus. Rupa-rupanya untuk memaksa agar orang yang kaya mau berbagi tho...
Kuwi yen gelem.. Lha mau apa gak sih..??

31 December, 2009

Lepel Kenikmatan

Beberapa hari terakhir ini simbah lihat buah belimbing di depan rumah simbah tampak gede-gede dan menguning. Hampir tiap hari anak-anak memetik dan merasakan nikmatnya belimbing itu. Tadinya buah belimbing merupakan buah paporit simbah. Baru mendengar namanya saja sudah kemecer. Apalagi jika melihat orang rujakan sembari sesekali ndulit sambel rujaknya, wah makin kotos-kotos saja…

Namun setelah memiliki pohon sendiri, simbah mulai merasakan yang namanya belimbing itu biasa-biasa saja. Malahan simbah terhitung jarang makan buah belimbing walaupun hampir setiap hari di kulkas selalu tersedia. Malahan justru para tetangga yang seringkali menikmati buah belimbing simbah.

Sebenarnya tidak hanya simbah yang merasakan hal serupa. Hampir semua pemilik pohon buah-buahan ataupun hal yang lain pasti akan merasakan hal serupa. Yu Ginem yang memiliki kebun duren di belakang rumahnya, akan menganggap makan duren bukanlah hal yang luar biasa. Mungkin justru Yu Ginem akan lebih tertarik pada buah ciplukan yang tumbuh liar di kebon Kang Jemprit dimana kang Jemprit sendiri tiap hari sibuk nebasi pohon Ciplukan itu karena dianggap mengganggu.

Orang menamai penomena ini dengan kata “bosan”. Pokoknya kalau sudah punya sendiri malah jadi bosen. Beda keadaannya manakala masih berada di harapan atau angan-angan atau cita-cita. Si Badu yang lama memimpikan punya PS sendiri itu merasakan keasyikan yang sangat manakala belum punya PS sendiri dan hanya nebeng di rumah tetangganya. Justru keasyikan itu menjadi menghilang di saat dia bisa mengangkangi sendiri PSnya yang dibelikan oleh simboknya setelah menjual wedhus kesayangannya. Walaupun di minggu-minggu awal dia masih merasakan keasyikan yang sama seperti di rumah tetangganya.

Begitulah kehidupan. Justru kenikmatan segala sesuatu dalam hidup ini bisa lebih terasa manakala segalanya masih dalam harapan dan cita-cita. Manakala harapan dan cita-cita itu tercapai, seseorang mengalami proses pendataran dan selanjutnya penurunan di dalam hal level kenikmatannya.

Cobalah sampeyan temui kaum gembel wal kere, lalu berikanlah pada mereka selembar uang dua puluh rebuan. Maka sampeyan akan dapati ekspresi wajah kegembiraan yang tiada tara yang tak sampeyan dapati di wajah seorang Pengusaha Konglomerat sekaligus merangkap Taleg (Anggota Legislatip) jika diberi nominal uang yang sama. Sang Konglomerat Taleg tadi baru akan menunjukkan ekspresi wajah yang sama jika yang diberikan adalah sekoper penuh uang gambar Soekarno Hatta. Level kenikmatan uang duapuluh ribuan ripis sudah lewat.

Sampeyan temtu ingat grup-grup musik dunia semacam The Beatles atau Rolling Stones, dimana pada saat segalanya sudah bisa mereka nikmati yang terjadi adalah ketiadaan harapan dan cita-cita. Harapan dan cita-cita adalah satu hal yang baru bisa diwujudkan NANTI saat dia mampu mencapainya. Di lepel keadaan dimana segalanya bisa diwujudkan SEKARANG justru membuat seseorang tak bisa bercita-cita dan berharapan. Segala sesuatu yang bisa dinikmati bisa diwujudkan saat itu juga, apapun itu. Ujung-ujungnya adalah seseorang menjadi pribadi yang tak mudah lagi dipuaskan. Karena lepel kenikmatan yang tadinya bisa memuaskan dia sudah dilewati semua.

Di keadaan seperti itu, sebagaimana sudah sampeyan tahu, orang-orang yang sudah memuncaki lepel kenikmatan dunia itu mencoba mencari kenikmatan di jalan lain. Ada yang mencoba kenikmatan di alam narkotika, morpin dan narkoba lainnya. Yang lebih ekstrim adalah seperti pasangan suami istri kaya, yang merasa sudah menikmati apapun yang ada di dunia ini. Hanya saja ada satu yang belum pernah dia rasakan dan penasaran dengan rasanya, yakni merasakan Mati alias Dut van Modiyar. Pasangan gendheng tapi kaya ini bunuh diri bareng-bareng karena penasaran dengan yang namanya mati. Opo gak koplo…

Meski begitu ada juga perkecualiannya. Simbah teringat satu acara di TV AXN yang saat itu menampilkan Dylan Wilk, yakni seorang yang bisa menjadi orang terkaya nomer 9 di Inggris di usia 25 tahun. Jian, hebat tenan, siapapun pasti pingin begitu. Di awal masa sugehnya, kang Dylan menghabiskan duitnya untuk koleksi mobil sport mewah yang memang digilainya. Yang namanya Ferrari dan sedulurnya menjadi target langganannya. Tak luput juga BMW, Mercy dan lainnya. Namun menurut pengakuannya, semua itu tak menjadikan dirinya menemukan arti hidup. Kesenangan memiliki mobil-mobil mewah itu hanya bertahan paling lama 6 minggu. Lalu semuanya jadi BIASA lagi.

Hidupnya jadi agak lebih hidup di saat dia dimintai bantuan mbangun rumah gelandangan sebanyak dua biji, yang biaya pembangunannya sebesar harga tiket pesawatnya.. Glodaak.. Dia tersadar. Kenikmatan hidup tidak hanya dengan cara memuaskan diri. Maka melihat wajah kepuasan orang yang dibangunkan rumah olehnya menjadikan hidupnya lebih berarti. Ketika dia pulang, dia melihat mobilnya dengan pandangan berubah. Dia memandang deretan mobilnya dengan pandangan jijik. Satu mobilnya yakni BMW seri M3 dijualnya dan diwujudkan menjadi 60 rumah bagi gelandangan di Filipina sekaligus dia namai komplek rumah itu dengan nama kampung M3 sesuai nama seri mobil BMW yang dia jual itu.

Melihat beberapa kenyataan di atas, apabila sampeyan memiliki sekian banyak harapan dan cita-cita yang belum terwujud, bersyukurlah dan kejar cita-cita itu. karena itulah yanag membuat sampeyan merasakan hidup. Gusti Allah melarang orang berputus asa atawa berputus harapan. Orang yang putus harapan selalu dikaitkan dengan orang yang tak punya harapan. Dan penyebab orang tak punya harapan ternyata ada 2, orang yang merasa tak bisa mewujudkan harapan dan orang yang segala harapannya sudah terwujudkan hingga bingung harapan mana lagi yang akan diwujudkan.

Maka agar orang bisa terus punya harapan, carilah harapan yang tidak bisa diwujudkan di dunia. Hanya orang-orang beriman yang bisa memiliki harapan seperti itu. Karena mereka tidak menanamkan harapan sepenuhnya pada dunia. Taapi di alam yang hanya diyakini oleh orang yang dipanggil oleh Allah sebagai “Wahai orang-orang yang beriman…..!”

^dapet dari imel berantai di ofis. Nice article. ^_^ Semoga kita bisa menjadi individu yang bersyukur dan tetap bercita-cita tinggi.

25 November, 2009

AIM HIGH

Bercita-citalah setinggi langit." ~ Pepatah Bijak

Kalimat ini sangat populer di telinga saya sejak masih SD. Dari dulu sebenarnya anak-anak sudah diajarkan secara tidak langsung untuk bermimpi besar, bercita-cita yang tinggi.

Tapi seiring berjalan waktu, dan semakin dewasa seseorang justru yang terjadi malah sebaliknya. Banyak orang justru tidak berani lagi bercita-cita setinggi langit saat ini, apalagi melihat situasi dan kondisi yang ada di lingkungannya, melihat keterbatasan dirinya, dan kekurangan lainnya yang dianggap sudah sangat tidak memungkinkan lagi untuk mempunyai tujuan yang besar.

Mengapa Anda menjadi khawatir menetapkan tujuan yang besar?

Apa yang membuat Anda takut untuk menetapkan target yang tinggi?

Ada yang mengatakan, "Untuk apa punya tujuan besar, nanti kalau tidak tercapai bisa stres. Istilahnya kalau mimpi sampai lantai 10 kalau tidak terjangkau dan jatuh akan sangat sakit sekali."

Dulu saya juga berpikir demikian, tapi kalau tidak pernah punya tujuan besar rasanya lebih menyedihkan karena tidak tahu harus mengejar apa dalam hidup ini.

Pikiran saya kalau tidak bisa sampai lantai 10, dan jatuh setidaknya nanti ada di lantai 9 atau 8. Daripada saya bermimpi di lantai 2 dan jatuh di lantai 1, kenapa tidak sekalian tinggi mimpinya.

Kemudian kembali saya berpikir, mengapa harus membayangkan akan jatuh dulu, mengapa harus membayangkan akan tidak tercapai? Mengapa tidak berpikir, kalau nanti tercapai apa tindakan selanjutnya?

Jadi fokus utama pemikiran kita akan mempengaruhi keputusan kita untuk menentukan tujuan. Jika fokusnya negatif maka kecenderungan tujuannya akan tidak besar, begitu pula sebaliknya jika fokus Anda positif maka tujuan yang akan Anda buat akan lebih tinggi.

Jangan pernah mau membatasi diri Anda oleh siapa pun, dan dalam kondisi apa pun. Buang semua fokus negatif, hambatan yang ada dalam pikiran, karena ini yang akan membuat Anda menghentikan atau mematikan tujuan besar dalam hidup Anda. Lakukan suatu yang luar biasa untuk hidup Anda.

If You Can Aim High, Why You Should Aim Low?

Salam Sukses!

Muk Kuang

People Development Trainer

27 October, 2009

Di Balik Cita-Cita

Saya dapet artikel ini dari imel berantai di kantor. Nice artikel.

So…jangan takut untuk bercita-cita. Dan jangan remehkan cita-cita apapun itu.

Apa cita-cita anda ketika kanak-kanak? Menjadi guru? Dokter? Atau insiyur? Ketika iseng membolak balik sebuah majalah anak-anak Indonesia yang memuat tentang biodata kiriman pembaca, saya tersenyum sendiri. Aduh! Dari zaman dulu masa sih cita-citanya itu-itu saja. Kalau tidak guru, dokter atau jadi insiyur.

Tahukah anda apakah cita-cita favorit anak-anak Jepang?

Saya coba membaca kembali buku kenangan si sulung ketika duduk di taman kanak-kanak Ishima. Buku itu memuat gambar wajah goresan tangan siswa dan kolom �gokikunattara� h (kalau sudah besar�c..). Dari 65 orang teman satu angkatan si sulung, ada 25 item cita-cita. Ajaibnya, tak satupun menjawab ingin menjadi guru atau insiyur. Hanya ada satu orang menjawab ingin menjadi dokter gigi.

Apakah cita-cita anak-anak Jepang ini? Terbanyak nomor satu adalah menjadi penjual. Penjual bunga, sayuran, es krim, kue, roti, buku dll. Profesi favorit nomor dua adalah driver. Driver truk, bis, masinis dan shinkansen (kereta super cepat Jepang). Selanjutnya disusul pekerjaan lain seperti polisi dan petugas pemadam kebakaran.

Cita-cita anak-anak memang bukan hal yang tetap. Kadang berubah-rubah sesuai pengalaman hidup yang dijumpainya. Contohnya si sulung. Sehabis kunjungan ke kantor pemadam kebakaran, dia ingin menjadi petugas pemadam kebakaran. Tapi ketika kami pergi dengan kereta super cepat-shinkansen- melihat petugas control shinkansen dia langsung berbisik,�hBun, kakoi (gagah) ya.�h Katanya sambil menunjuk petugas untenshi shinkansen.
Dia juga pernah bercita-cita menjadi tukang kayu. Hah, tukang kayu? Betul, tukang kayu hehehe�cCeritanya ada satu buku yang kami pinjam dari perpustakaan mengulas tentang pernak pernik kehidupan dan pekerjaan seorang tukang kayu Jepang. Aiiih�cbuku itu memang menarik sekali. Disamping mengenalkan peralatan pertukangan, dikenalkan teknik memotong dengan gergaji, memaku, memasang sekrup, mengayunkan kapak dll. Ada juga scene tentang kehidupan tukang kayu dan keluarga. Akhir pekan ketika sedang tak ada order, jalan-jalan dengan keluarga. Duh, asyiknya. Kemudian bagian terakhir, ada penjelasan tentang bagaimana suatu bangun bisa berdiri. Dari membuat pondasi, tiang dll. Agar bangunan tahan gempa, sejumlah teknik juga dijelaskan. Betul-betul buku anak-anak yang sarat informasi!
Jadi betul ya, memang cita-cita anak-anak gampang berubah. Tapi, ada beberapa hal setidaknya membuat pola cita-cita anak-anak Jepang dan Indonesia begitu berbeda. Ini alasannya menurut saya.

Pertama. Pengalaman bersentuhan langsung dengan beragam lingkungan di luar sekolah atau rumah. Kurikulum sekolah Jepang, dari taman kanak-kanak ada program untuk kunjungan keluar (kengaku). Kunjungan ke kantor pemadam kebakaran, kepolisian, stasiun, stadion olahraga dll. Dalam kunjugan ini biasanya siswa di perkenalkan dengan pekerjaan rutin disitu, juga diajak berinteraksi langsung. Mereka diajak langsung melihat gulungan selang pemadam kebakaran dan alat bantu lainnya misalnya, melihat polisi yang sedang latihan berbaris, melongok isi mobil dapur umum tentara Jepang dan banyak lagi.

Kedua. Keberadaan ehon (buku bergambar) yang beragam. Jepang memang gudangnya buku anak. Komik dan buku bergambar hadir dengan beragam ilustrasi menarik sesuai usia anak. Betul-betul syurga bagi orangtua yang ingin menumbuhkan minat baca bagi putra putrinya. Buku-buku tentang beragam profesi bisa didapatkan disini, asal kita telaten mengubek-ngubek koleksi perpustakaan. Contohnya, buku tentang tukang kayu yang membuat si sulung memoloti buku itu seharian sampai habis.

Ketiga. Orang Jepang sangat menghargai pekerjaan apapun. Tak peduli seorang kuli atau tukang kayu, lingkungan tak pernah meremehkan pekerjaan tersebut. Ketua PTA (parent Teacher Association) di kelas si sulung adalah seorang ibu pemilik salon kecil. Kepada petugas cleaning service di lorong-lorong laboratorium di kampus, para professor yang telah mencapai tingkat ilmu tertinggi di bidang akademik itu, tak segan-segan mengucapkan sekedar salam �gotsukaresamadeshit a�h (terima kasih atas usaha dan kerja keras anda). Kami para mahasiswa, jika bertemu para volunteer di rumah sakit, diingatkan selalu aisatsu (salam). Volunteer adalah petugas sukarela yang membantu pasien RS pendidikan Okayama University, tempat saya menuntut ilmu, untuk melakukan registrasi kartu lewat mesin otomatis di lobby bawah dekat pintu masuk RS. Para volunteer ini kebanyakan berusia senja yang telah pensiun dari pekerjaannya. Mereka tidak mendapat gaji dari RS. Mereka mengerjakan tugas ini sukarela untuk mengisi masa-masa pensiunnya.

Itulah tiga alasan yang membuat anak-anak Jepang begitu memiliki beragam cita-cita, yang mungkin untuk orang Indonesia, profesi yang dipandang sebelah mata. Cita-cita kok jadi tukang bunga? Kerenan dikit nape hehehe...

Cita-cita juga adalah gambaran lingkungan menanamkan secara tidak sengaja �elabel�f atas sebuah profesi. Cita-cita itu harus yang keren. Kalau ngga keren, bukan cita-cita donk. Ketika lingkungan memberikan apresiasi terhadap profesi, anak-anak pun menyerapnya menjadi pembelajaran. Di sekolah dasar si sulung setiap tahun ada kegiatan yang bernama gaku tanken atau mengenal lingkungan terdekat sekolah. Kantor pos, toko kue, salon, pool bis dll menjadi sasaran kunjungan anak-anak secara berkelompok. Anak-anak diperkenakan untuk bertanya tentang apapun yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut. Dari proses interaksi langsung, timbullah pemahaman atas sebuah profesi. Dari situ lahirlah penghargaan. Tukang pos itu berat ya pekerjaannya. Surat tidak boleh sampai salah kirim. Tapi asyik juga jadi tulang pos, bisa hapal nama-nama jalan, begitulah salah stau kesan anak-anak yang pergi ke kantor pos..
Penghargaan atas profesi apapun, itulah yang harus dipupuk sejak dini pada anak-anak. Profesi apapun jika dilakukan dengan sungguh-sungguh dan bermanfaat bagi orang lain adalah sebuah kebanggaan. Kebanggan bukan karena dari profesi itu mendapat banyak uang. Tapi kebanggan karena dapat berdikari dan menghidupi diri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Penghargaan juga menjadikan anak-anak untuk empati. Empati merasakan kesulitan sebuah pekerjaan. Susah ya ternyata jadi tukang pos itu. Makanya kalau menulis surat, jangan lupa tuliskan kode posnya, itulah ucapan empati lainnya yang sempat terucapkan anak-anak grup kantor pos.

Pertengahan tahun 2005,seorang siswi SMP di Bekasi yang bunuh diri karena ia tak tahan diledek temannya karena ayahnya seorang tukang bubur!.Bayangkan anak-anak SMP yang notabene sudah �gdewasa�h sampai hati melakukan hal tersebut. Inilah gambaran carut marut sistem pendidikan moral di negri kita. Empati memang tidak bisa diukur dengan parameter konkrit seperti nilai matematika. Ia juga tak bisa dilihat hasilnya secara instan. Butuh waktu dan proses yang terus menerus agar empati tumbuh di kalangan anak. Inilah pekerjaan rumah para pendidik dan orangtua yang paling penting. Karena dengan empatilah kehidupan berbangsa akan mencapai titik keselaran tertinggi.

Jadi berbicara tentang cita-cita anak-anak tidaklah sesederhana yang diduga. Cita-cita anak-anak adalah gambaran atas orang dewasa di sekelilingnya menghargai sesuatu. Mari kita didik anak-anak sedini mungkin untuk lebih empati terhadap lingkungan.

^posting lewat imel. Bisa kah?